Suatu pagi d ujung maret
Mendung yang kelabu
Rinai hujan
Seakan jadi gambaran hati ini_kelam
Tak ada nuansa indah
Juga kebahagiaan
Semua terekam dalam memory hatiku
Lalu mencair dalam cengengnya sajakku
Yang ku reguk bersama pahitnya kopi.
Aku terdiam lalu menatap keangkasa
Coba mencari makna dari smuanya
Aku bertanya apakah Aku kecewa
Tapi tak ada jawabnya
Semua bisu sebisu kisah ini,
Pada alamanda merah tua
Dan butira~butiran hujan ku mengadu
Meski Ku sadar semua sia~sia
Tapi harus pada siapa Aku mengadu
Bila semua tak ada yang peduli.
Semua hanya Cerita
Cerita yang harus di akhiri
Ya sekali lagi di akhiri
Di akhiri sebelum Aku terpuruk
Terpuruk dan tak bisa bangkit lagi.
Senin, 29 Maret 2010
Rabu, 10 Maret 2010
Selasa, 09 Maret 2010
Kerinduan
Wahai orang yang jatuhkan airmataku
Temui Aku
Meski itu hanya dalam tidurku
Agar Aku tenang dari galauku.
Jauh dilubuk hatiku
Ada jerit kerinduan yang menggebu
Ketika orang sebut namamu
Dan ketika kusadar siapa Aku.
Kudendangkan syair memujamu
Ungkapan rindu yang tiada jemu
Bening air matapun mengalir dipipiku
Sebagai bukti kerinduanku.
Aku resah, gelisah, gundah
Ketika sesal datang menggugah
Sesal akan segala salah
Salah ketika Aku sadar ataupun lengah.
Temui Aku
Meski itu hanya dalam tidurku
Agar Aku tenang dari galauku.
Jauh dilubuk hatiku
Ada jerit kerinduan yang menggebu
Ketika orang sebut namamu
Dan ketika kusadar siapa Aku.
Kudendangkan syair memujamu
Ungkapan rindu yang tiada jemu
Bening air matapun mengalir dipipiku
Sebagai bukti kerinduanku.
Aku resah, gelisah, gundah
Ketika sesal datang menggugah
Sesal akan segala salah
Salah ketika Aku sadar ataupun lengah.
Pencarian
Pagi
Fajar menyapa dengan hangatnya
Ku tatap timur, ada kecerahan
Lalu menggeliat dan merenung
Ada mimpi yang membayang
Aku terlena oleh indahnya
Tapi disana tidak aku temukan_ ketenangan
Siang
Kecupan lembut sang mentari menghujaniku
Bersama debu~debu jalanan
Lalu ku langkahkan kaki iringi sang bayu_ ke sungai
Air mengalir begitu tenang
Kureguk, coba rasakan sejuknya
Tapi disana tidak ku temukan_ ketenangan
Senja
Ku tatap cakrawala bisu
Ada pancaran, Nuansa indah
Ada segurat kenangan membayang
Membaur dalam lembayung jingga
Aku terbuai imaji
Tapi disana juga tidak Aku temukan_ ketenangan
Malam
Kureguk bersama heningnya
Kususuri gelapnya
Bersama bintang juga rembulan
Ada kesejukan, Menyelimuti
Aku terus, dan terus berjalan
Tapi disana Aku juga tidak temukan_ ketenangan
Fajar menyapa dengan hangatnya
Ku tatap timur, ada kecerahan
Lalu menggeliat dan merenung
Ada mimpi yang membayang
Aku terlena oleh indahnya
Tapi disana tidak aku temukan_ ketenangan
Siang
Kecupan lembut sang mentari menghujaniku
Bersama debu~debu jalanan
Lalu ku langkahkan kaki iringi sang bayu_ ke sungai
Air mengalir begitu tenang
Kureguk, coba rasakan sejuknya
Tapi disana tidak ku temukan_ ketenangan
Senja
Ku tatap cakrawala bisu
Ada pancaran, Nuansa indah
Ada segurat kenangan membayang
Membaur dalam lembayung jingga
Aku terbuai imaji
Tapi disana juga tidak Aku temukan_ ketenangan
Malam
Kureguk bersama heningnya
Kususuri gelapnya
Bersama bintang juga rembulan
Ada kesejukan, Menyelimuti
Aku terus, dan terus berjalan
Tapi disana Aku juga tidak temukan_ ketenangan
Tentang Aku
Pagi Oktober yang menjumpaiku
Tanpa fajar yang hangatkan tubuhku
Selayaknya hatiku_
Berkabut_ Berkabut_ Berkabut
Hembuskan keresahan yang mencekam
Penuh dengan kebosanan.
Siang menjelang
Tanpa kecerahan, masih menyelimuti
Dan Aku terdampar di kesendirian
Taman bumi dan langit
Penuh dengan kesuraman
Selayaknya hatiku.
Senja datang
Masih berkabut
Aku terbuai kebahagiaan
Melambung jauh bersama harapan
Ketika aku sadar semua hanya mimpi
Hanya mimpi.
Ketika malam tiba
Bulan sabit bersembunyi
Tak ada senyum dalam kegelapan
Akupun juga begitu
Lalu merenung.
Jauh disana
Hatimu
Penuh dengan kerinduan
Seperti hati ini
Kuharapkan dirimu
Dengan senyum indahmu
Yang silaukan Qalbuku
Memandan dan menikmatinya.
Sehinga akhirnya kini
Bersatu dalam kerinduan
Di dunia kita masing~masing
Walau jauh
Lekat di sanubari.
Dan Aku kembali terperangkap di impianku
Yang penuh dengan cinta
Kerinduan mungkin juga benci
Benci.
Tanpa fajar yang hangatkan tubuhku
Selayaknya hatiku_
Berkabut_ Berkabut_ Berkabut
Hembuskan keresahan yang mencekam
Penuh dengan kebosanan.
Siang menjelang
Tanpa kecerahan, masih menyelimuti
Dan Aku terdampar di kesendirian
Taman bumi dan langit
Penuh dengan kesuraman
Selayaknya hatiku.
Senja datang
Masih berkabut
Aku terbuai kebahagiaan
Melambung jauh bersama harapan
Ketika aku sadar semua hanya mimpi
Hanya mimpi.
Ketika malam tiba
Bulan sabit bersembunyi
Tak ada senyum dalam kegelapan
Akupun juga begitu
Lalu merenung.
Jauh disana
Hatimu
Penuh dengan kerinduan
Seperti hati ini
Kuharapkan dirimu
Dengan senyum indahmu
Yang silaukan Qalbuku
Memandan dan menikmatinya.
Sehinga akhirnya kini
Bersatu dalam kerinduan
Di dunia kita masing~masing
Walau jauh
Lekat di sanubari.
Dan Aku kembali terperangkap di impianku
Yang penuh dengan cinta
Kerinduan mungkin juga benci
Benci.
Tentang Aku dan Dia
Senada cinta yang ku dendangkan di hatimu
Indah berhias pernak~pernik rindu
Terzahir dari relung sanubariku
Indah tapi tidak di hatimu.
Ku berpijak menatap kastilku
Hening, selayaknya hatiku
Aku hias dengan tulus kasihku
Dengarkan lagu penyejuk rindu
Isyarat jiwa yang kian sendu
Jasad merana hati berduka rindu
Angan dan harap tak sampai tuju
Hilang haluan di laut kebisuanmu.
Naif diri tak terpungkiri
Umpama cinta yang dinanti
Risaulah yang ternikmati.
Masih adakah harapan cinta
Antara keheningan yang kau bina
Ribuan kata yang penuh warna
Yakinkan hati pada cita~cita
Angkara murka Ku jadikan permata
Mengharap kasih mekar diujung masa.
Indah berhias pernak~pernik rindu
Terzahir dari relung sanubariku
Indah tapi tidak di hatimu.
Ku berpijak menatap kastilku
Hening, selayaknya hatiku
Aku hias dengan tulus kasihku
Dengarkan lagu penyejuk rindu
Isyarat jiwa yang kian sendu
Jasad merana hati berduka rindu
Angan dan harap tak sampai tuju
Hilang haluan di laut kebisuanmu.
Naif diri tak terpungkiri
Umpama cinta yang dinanti
Risaulah yang ternikmati.
Masih adakah harapan cinta
Antara keheningan yang kau bina
Ribuan kata yang penuh warna
Yakinkan hati pada cita~cita
Angkara murka Ku jadikan permata
Mengharap kasih mekar diujung masa.
Minggu, 07 Maret 2010
Oktober
Nasib diri yang penuh egois
Oktober yang terasa menghiris
Oktober yang hadirkan tangis
Rona senyum yang sadis
Ibarat ranting yang tlah lapuk
Zaman berjalan tanpa jejak
Zahirkan rasa yang terkoyak
Akankah kejujuran tersibak
Tutupi egois, bagai awan berarak
Indah, namun tak nampak
Lahirkan gundah dalanm jiwa yang berontak
Hari pergi tak mungkin kembali
Asmara jauh melambung tinggalkan hati
Sengsaralah kini yang ternikmati
Angin sepoi pun tak mampu sejukkan diri
Nuansa bening tlah ternodai
Air mata yang jadi saksi
Hingga akhir kisah ini.
Oktober yang terasa menghiris
Oktober yang hadirkan tangis
Rona senyum yang sadis
Ibarat ranting yang tlah lapuk
Zaman berjalan tanpa jejak
Zahirkan rasa yang terkoyak
Akankah kejujuran tersibak
Tutupi egois, bagai awan berarak
Indah, namun tak nampak
Lahirkan gundah dalanm jiwa yang berontak
Hari pergi tak mungkin kembali
Asmara jauh melambung tinggalkan hati
Sengsaralah kini yang ternikmati
Angin sepoi pun tak mampu sejukkan diri
Nuansa bening tlah ternodai
Air mata yang jadi saksi
Hingga akhir kisah ini.
Musim semi
Maafkan bila...
Aku tak lagi sendiri
Bukan berarti Aku tak setia lagi
Dia hanya tuk temani
Kala Aku resah dilanda sepi.
Maafkan bila...
Aku tak lagi sendiri
Bukan Aku tak ingat janji
Dia hanya sekedar penghias mimpi
Saat kita tak bersama lagi.
Maafkan bila...
Aku tak lagi sendiri
Bukan Aku tak cinta lagi
Dia hanya pelipur lara di hati
Saat Aku kau tinggal sendiri.
Walau nanti kita tak lagi sendiri
Ketika kita tlah saling dimiliki
Ku harap cerita ini slalu abadi
Menghias lembar kenangan dihati
Kenangan indah cinta suci.
Aku tak lagi sendiri
Bukan berarti Aku tak setia lagi
Dia hanya tuk temani
Kala Aku resah dilanda sepi.
Maafkan bila...
Aku tak lagi sendiri
Bukan Aku tak ingat janji
Dia hanya sekedar penghias mimpi
Saat kita tak bersama lagi.
Maafkan bila...
Aku tak lagi sendiri
Bukan Aku tak cinta lagi
Dia hanya pelipur lara di hati
Saat Aku kau tinggal sendiri.
Walau nanti kita tak lagi sendiri
Ketika kita tlah saling dimiliki
Ku harap cerita ini slalu abadi
Menghias lembar kenangan dihati
Kenangan indah cinta suci.
Kecewa
Ponpes Ibnu Mas'ud
Minggu 11 Oktober 2009
Ada kekecewaan yang melanda
Pada dinding~dinding pegunungan
Pada kemah~kemah yang kumuh
Yang kureguk bersama kesunyian.
Keindahan yang membayang dimata
Pada hamparan tanah merah
Dan pegunungan yang menghijau
Serasa gersang di hatiku.
Kesejukan yang membuai raga
Terpancar indah dalam kebisuan
Hadirkan nuansa~nuasa Bening
Tapi tidak di hati ini.
Harapan yang kvlabuhkan
Kandas di tanah merah gersang
Tak mekar meski disiram ketulusan
Malah mati oleh kekecewaan.
Dan pantaskah Aku membenci
Sedang diantara kita tak ada arti
Layaknya kemah~kemah itu
Panas, dan akan tetap panas.
Minggu 11 Oktober 2009
Ada kekecewaan yang melanda
Pada dinding~dinding pegunungan
Pada kemah~kemah yang kumuh
Yang kureguk bersama kesunyian.
Keindahan yang membayang dimata
Pada hamparan tanah merah
Dan pegunungan yang menghijau
Serasa gersang di hatiku.
Kesejukan yang membuai raga
Terpancar indah dalam kebisuan
Hadirkan nuansa~nuasa Bening
Tapi tidak di hati ini.
Harapan yang kvlabuhkan
Kandas di tanah merah gersang
Tak mekar meski disiram ketulusan
Malah mati oleh kekecewaan.
Dan pantaskah Aku membenci
Sedang diantara kita tak ada arti
Layaknya kemah~kemah itu
Panas, dan akan tetap panas.
Kecewa
Ponpes Ibnu Mas'ud
Minggu 11 Oktober 2009
Ada kekecewaan yang melanda
Pada dinding~dinding pegunungan
Pada kemah~kemah yang kumuh
Yang kureguk bersama kesunyian.
Keindahan yang membayang dimata
Pada hamparan tanah merah
Dan pegunungan yang menghijau
Serasa gersang di hatiku.
Kesejukan yang membuai raga
Terpancar indah dalam kebisuan
Hadirkan nuansa~nuasa Bening
Tapi tidak di hati ini.
Harapan yang kvlabuhkan
Kandas di tanah merah gersang
Tak mekar meski disiram ketulusan
Malah mati oleh kekecewaan.
Dan pantaskah Aku membenci
Sedang diantara kita tak ada arti
Layaknya kemah~kemah itu
Panas, dan akan tetap panas.
Minggu 11 Oktober 2009
Ada kekecewaan yang melanda
Pada dinding~dinding pegunungan
Pada kemah~kemah yang kumuh
Yang kureguk bersama kesunyian.
Keindahan yang membayang dimata
Pada hamparan tanah merah
Dan pegunungan yang menghijau
Serasa gersang di hatiku.
Kesejukan yang membuai raga
Terpancar indah dalam kebisuan
Hadirkan nuansa~nuasa Bening
Tapi tidak di hati ini.
Harapan yang kvlabuhkan
Kandas di tanah merah gersang
Tak mekar meski disiram ketulusan
Malah mati oleh kekecewaan.
Dan pantaskah Aku membenci
Sedang diantara kita tak ada arti
Layaknya kemah~kemah itu
Panas, dan akan tetap panas.
Jumat, 05 Maret 2010
Siang
Teriknya sinar mentari
Lembutnya hembusan sang bayu
Kolam dengan ikan~ikan mungil
Hamparan keagungan yang terasa
Begitu hening hadirkan nuansa kerinduan.
Lembutnya hembusan sang bayu
Kolam dengan ikan~ikan mungil
Hamparan keagungan yang terasa
Begitu hening hadirkan nuansa kerinduan.
15 juli 2009
Senja ranum di pelupuk mataku
Tanah kering dan butiran debu
Mengental lalu bersatu dalam benakku
Tapi semua hanya saksi bisu
Saksi cinta yang terhalang waktu.
Detik, menit, jam, dan akhirnya hari
Berjalan berdempet dan tak terhenti
Semua tertawa tinggalkan ku sendiri
Lalu siapa yang mencoba tuk mengerti.
Di tempat ini tlah ada gedung yang angkuh
Melibas kenangan, memunah
Lalu pancarkan sinar yang membuatku rapuh
Tak lagi tegar_ goyah
Dan akhirnya membuatku terbunuh.
Senja ranum di pelupuk mataku
Tanah kering dan butiran debu
Mengental lalu bersatu dalam benakku
Tapi semua hanya saksi bisu
Saksi cinta yang terhalang waktu.
Detik, menit, jam, dan akhirnya hari
Berjalan berdempet dan tak terhenti
Semua tertawa tinggalkan ku sendiri
Lalu siapa yang mencoba tuk mengerti.
Di tempat ini tlah ada gedung yang angkuh
Melibas kenangan, memunah
Lalu pancarkan sinar yang membuatku rapuh
Tak lagi tegar_ goyah
Dan akhirnya membuatku terbunuh.
Maafkan
Maafkan bila tak lagi pedulikanmu
Membuang jauh keramah tamahanku
Bukan Aku membencimu
Aku hanya ingin kau pergh dari hatiku.
Maafkan bila Aku tak seperti yang dulu
Dengan ulasan senyum dibibirku
Bukan Aku gusar padamu
Aku hanya ingin menjauh darimu.
Maafkan bila Aku berpaling muka darimu
Menendang jauh keakrabanku
Bukan Aku tak menyayangimu
Aku hanya berusaha membunuh kecewaku.
Maafkan bila Aku tak seramah dulu
Berpaling muka darimu
Bukan Aku muak dengan tingkahmu
Aku hanya ingin berpaling dari rasaku.
Membuang jauh keramah tamahanku
Bukan Aku membencimu
Aku hanya ingin kau pergh dari hatiku.
Maafkan bila Aku tak seperti yang dulu
Dengan ulasan senyum dibibirku
Bukan Aku gusar padamu
Aku hanya ingin menjauh darimu.
Maafkan bila Aku berpaling muka darimu
Menendang jauh keakrabanku
Bukan Aku tak menyayangimu
Aku hanya berusaha membunuh kecewaku.
Maafkan bila Aku tak seramah dulu
Berpaling muka darimu
Bukan Aku muak dengan tingkahmu
Aku hanya ingin berpaling dari rasaku.
Kamis, 04 Maret 2010
Petuah
Rabu 20 mei 2009
Jangan kau sesali pertemuan
Jangan kau tangisi perpisahan
Namun jadikan satu renungan
Untuk langkah di hari depan.
Jangan takdir kau persalahkan
Jangan pula cinta kau dustakan
Namun kata hati jadikanlah pedoman
Untuk semua harapan dan impian.
Jangan benci kau jadikan alasan
Jangan rindu kau jadikan beban
Namun perbedaan cobalah tuk disatukan
Untuk setia yang diperjuangkan.
Jangan gagal kau anggap kehancuran
Jangan kecewa kau jadikan hambatan
Namun cita~cita tetaplah pertahankan
Untuk penuntun langkah di hari depan.
Jangan kau sesali pertemuan
Jangan kau tangisi perpisahan
Namun jadikan satu renungan
Untuk langkah di hari depan.
Jangan takdir kau persalahkan
Jangan pula cinta kau dustakan
Namun kata hati jadikanlah pedoman
Untuk semua harapan dan impian.
Jangan benci kau jadikan alasan
Jangan rindu kau jadikan beban
Namun perbedaan cobalah tuk disatukan
Untuk setia yang diperjuangkan.
Jangan gagal kau anggap kehancuran
Jangan kecewa kau jadikan hambatan
Namun cita~cita tetaplah pertahankan
Untuk penuntun langkah di hari depan.
April 2009
Ketika aku cemburu
Kubiarkan hanya hatiku yang tau
Ketika aku kecewa
Kubiarkan hanya hatiku yang merasa
Ketika aku terluka
Kubiarkan air mata yang membasuhnya
Aku ingin kau tak pernah tau
Dirimulah penyebab lara di hatiku
Agar kau tau betapa Aku menyayangimu
Tlah ku sisakan banyak waktu untukmu
Meski mungkin dirimu bukan untukku.
Kubiarkan hanya hatiku yang tau
Ketika aku kecewa
Kubiarkan hanya hatiku yang merasa
Ketika aku terluka
Kubiarkan air mata yang membasuhnya
Aku ingin kau tak pernah tau
Dirimulah penyebab lara di hatiku
Agar kau tau betapa Aku menyayangimu
Tlah ku sisakan banyak waktu untukmu
Meski mungkin dirimu bukan untukku.
Sebuah Nama
Rabu 25 maret 2009
Wajah tanpa rupa
Bayang~Bayang sendu yang menjelma dalam tarian pena
Di kesendirianku, Dia hadirkan luka
Memahat pada dinding~dinding cinta
Memahat dan tinggalkan ukiran kecewa.
Sebuah cinta, benci, rindu
Adalah perselingkuhan yang hadirkan galau
Sajak selalu hadir ketika risau
Serta kecengenganku, sajak menoreh bagai pisau
Sajak mengering bagai kemarau.
Sebuah nama
Hamparan harapan cinta
Ada segurat kebahagiaan terasa
Tutur dan sapa, Rentetan kata~kata
Lambang kelembutan dalam jiwa.
Kurasakan hati dan perasaan bersujud padanya
Kelembutan tutur bahasa
Semua ada padanya, pada sebuah nama
Harapan hamparan Cinta
Semuanya adalah tidak sempurna.
Wajah tanpa rupa
Bayang~Bayang sendu yang menjelma dalam tarian pena
Di kesendirianku, Dia hadirkan luka
Memahat pada dinding~dinding cinta
Memahat dan tinggalkan ukiran kecewa.
Sebuah cinta, benci, rindu
Adalah perselingkuhan yang hadirkan galau
Sajak selalu hadir ketika risau
Serta kecengenganku, sajak menoreh bagai pisau
Sajak mengering bagai kemarau.
Sebuah nama
Hamparan harapan cinta
Ada segurat kebahagiaan terasa
Tutur dan sapa, Rentetan kata~kata
Lambang kelembutan dalam jiwa.
Kurasakan hati dan perasaan bersujud padanya
Kelembutan tutur bahasa
Semua ada padanya, pada sebuah nama
Harapan hamparan Cinta
Semuanya adalah tidak sempurna.
Hampa
Hampa...
Hanya pada lembaran ini ku berkata
Jawabnya pun hanya kebisuan semata
Mengalir lembut namun hancurkan semua.
Hampa...
Kemana lagi kemana lagi ku cari makna cinta
Sedang hati tlah kian lara
Menanggung beban rindu pada dirinya.
Hampa...
Kapan dan kapan ku akhiri semua
Mungkinkah ketika kita bersama
Sedang Ku sadar kesempatan itu tak ada.
Hampa...
Kumenatap lembaran yang jadi tumpuan lara
Menangis tanpa sedu sedan juga air mata
Berteman kerinduan yang begitu menyiksa.
Hanya pada lembaran ini ku berkata
Jawabnya pun hanya kebisuan semata
Mengalir lembut namun hancurkan semua.
Hampa...
Kemana lagi kemana lagi ku cari makna cinta
Sedang hati tlah kian lara
Menanggung beban rindu pada dirinya.
Hampa...
Kapan dan kapan ku akhiri semua
Mungkinkah ketika kita bersama
Sedang Ku sadar kesempatan itu tak ada.
Hampa...
Kumenatap lembaran yang jadi tumpuan lara
Menangis tanpa sedu sedan juga air mata
Berteman kerinduan yang begitu menyiksa.
Tentang Waktu
Semalam tadi...
Ada bahagia yang membuai sanubari
Membawaku terbang kealam tak bertepi
Hadirkan asa dan rasa yang tak dimengerti
Kuqeguk indahnya tapi semua tak abadi
Hanya sekelip lepaskan dahaga cinta ini.
Diujung pagi...
Ada deretan kata yang menusuk sanubari
Begitu halus namun setajam belati
Pedih menikam merajam hati
Namun Aku tak pernah sanggup hadirkan benci
Meski hanya secarik sekedar pembalut luka ini.
Dan esok nanti...
Ku ingin semua hilang dan pergi
Pergi dan tak pernah kembali lagi
Meski harus air mata yang basahi pipi
Aku rela demi semua ini
Demi cinta yang tak kunjung pergi.
Ada bahagia yang membuai sanubari
Membawaku terbang kealam tak bertepi
Hadirkan asa dan rasa yang tak dimengerti
Kuqeguk indahnya tapi semua tak abadi
Hanya sekelip lepaskan dahaga cinta ini.
Diujung pagi...
Ada deretan kata yang menusuk sanubari
Begitu halus namun setajam belati
Pedih menikam merajam hati
Namun Aku tak pernah sanggup hadirkan benci
Meski hanya secarik sekedar pembalut luka ini.
Dan esok nanti...
Ku ingin semua hilang dan pergi
Pergi dan tak pernah kembali lagi
Meski harus air mata yang basahi pipi
Aku rela demi semua ini
Demi cinta yang tak kunjung pergi.
Langganan:
Postingan (Atom)

